Kamis, 12 Juni 2014

Pedagogi dan Andragogi



Pedagogi dan Andragogi
Andragogi adalah proses untuk melibatkan peserta didik dewasa ke dalam suatu struktur pengalaman belajar (Alexander Kapp).
Asumsi Pedagogi dan Andragogi 
Dalam Konsep Diri, asumsi dalam Pedagogi adalah ketergantungan. Dimana anak-anak yang masih berada pada tingkat pendidikan 12 tahun belajar. Anak masih tergantung dari guru untuk mengikuti arahannya. Asumsi dalam Andragogi adalah peserta didik di tuntut untuk menjadi lebih mandiri dalam melakukan hal pembelajaran, tidak ada ketergantungan dari pengajarnya lagi. Dalam Pengalaman, asumsi dalam Pedagogi adalah berharga kecil, maksudnya adalah para peserta didik tidak mempunyai pengalaman yang cukup besar untuk membantunya menjadi mandiri dalam proses belajar, beda dengan asumsi Andragogi yang menyatakan bahwa Pelajar merupakan sumber daya yang kaya untuk belajar , dimana peserta didik sudah mempunyai wawasan yang luas dalam pengalaman pembelajarannya. Dalam Evaluasi, Pedagogi masih diberikan oleh guru, karena peserta didik belum mampu mengevaluasi dirinya sendiri dalam proses pembelajaran. Asumsi Andragogi, peserta didik sudah dapat mengukur/mengevaluasi dirinya sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Dalam Desain, asumsi dalam Pedagogi adalah logika materi pelajaran unit konten, jadi para peserta didik menggunakan logikanya hanya dalam unit unit tertentu, belum bisa menyelesaikan masalah yang lebih rumit, dan hanya terpaku pada misalnya matematika yang diajarkan gurunya, ketika soal matematika tersebut lebih rumit daripada contoh, maka peserta didik akan merasa lebih sulit mengerjakannya, kalau dalam Andragogi, peserta didik diurutkan dalam hal kesiapan untuk unit masalah, yang dimaksud adalah anak peserta didik akan mulai siap dalam menyelesaikan masalah, tanpa pembimbingnya harus mengarahkan sampai rinci. Dalam Kegiatan, Pedagogi masih menggunakan teknik pelayanan, dimana peserta didik menggunakan teknik pelayanan dalam setiap kegiatannya, masih butuh bantuan orang sekitar dalam proses belajar. Sedangkan Andragogi menggunakan teknik pengalaman, di karenakan sudah lebih banyak menjalani proses belajar, sehingga pemikiran mereka terhadap belajar pun sudah mulai bisa dijalankan lebih aktif dari pada peserta didik Pedagogi. Dalam Iklim Belajar, peserta didik Pedagogi berorientasi otoritas, resmi dan kompetitif, yang dimaksud disini adalah peserta didik lebih kompetitif tetapi resmi, karena pedagogi hanya mengikuti alur yang diberikan oleh pengajar, sedangkan pada Andragogi, Mutualis/pemberian pertolongan,tata hormat, kolaborasi dan informal. Sudah dibuktikan bahwa peserta didik Andragogi dituntut untuk berkolaborasi, karena dalam proses belajar tersebut, banyak yang menggunakan kerja kelompok/tim, tidak banyak lagi yang dilakukan secara individu. Dalam Rumusan Tujuan, Pedagogi masih melalui guru, seperti yang dijelaskan tadi, bahwa peserta didik Pedagogi lebih terpaku kepada pengajar karena mereka belum bisa bergerak sendiri dalam proses belajarnya, jadi apapun yang diberikan pengajar, para peserta didik akan mengikuti instruksi dari pengajarnya. Sedangkan Andragogi, relisa negosiasi. Andragogi lebih belajar untuk berfikir yang informal, maka dari itu, setiap ada pembelajaran yang menurut mereka sangatlah rumit, maka timbulah rasa ingin bernegosiasi, sudah ada keberanian. Dalam Kesiapan, asumsi Pedagoginya adalah tekanan sosial, mengapa dikatakan seperti ini? Ya karena pedagogi masih mengikuti aturan-aturan dan terpaku kepada pengajar, maka perkembangannya mereka akan mendapatkan tekanan sosial, berbeda jauh dengan Andragogi yang menyatakan bahwa tugas perkembangannya adalah peran sosial, dimana mereka sudah bisa memilih mana yang baik untuk mereka, apa yang akan mereka lakukan, jadi sudah bisa lebih mandiri dan mengatur perannya sendiri. Dalam Perspektif waktu, Pedagogi masih melakukan aplikasi tertunda, karena peserta didik pedagogi masih menerima arahan dari pengajarnya dan masih diberi sanksi yang kecil, maka mereka masih melakukan yang namanya aplikasi tertunda, dalam segi menyelesaikan tugas, maupun mengasah ilmu. Sedangkan Andragogi lebih dalam hal kecepatan ilmu. Yang terakhir adalah Perencanaan, dalam asumsi Pedagogi, perencanaan proses belajar masih dilakukan oleh guru, dan peserta didik masih mengikuti aturan perencanaan dari pengajarnya, sedangkan Andragogi sudah dituntut untuk diagnosis diri.

Selasa, 10 Juni 2014

INTELEGENSI

INTELEGENSI
KECERDASAN PADA MANUSIA
Manusia diciptakan dan dengan dilengkapi dengan kecerdasan yang memiliki kemampuan luar biasa, yang tidak dimiliki oleh makhluk lain dan kec erdasan sebagai suatu kemampuan ini pulalah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya dimuka bumi ini, dengan kec erdasan ini pula manusia dapat menjalani kehidupan yang dinamis dan beadab.
Adapun kecerdasan atu inteligensi manusia mempunyai implikasi sebagai suatu kemampuan adalah sbb :
1. Kemampuan mengklasifikasi pola – pola objek
Seorang yang normal adalah orang yang mampu dalam mengklasifikasikan stimulasi-stimulasi yang tidak identik ke dalam satu kelas atau rumpun
2. Kemampuan beradaptasi (kemampuan belajar)
Kemampuan beradaptasi merupakan suatu kemampuan yang harus manusia miliki dalam kehidupannya dan kemampuan beradaptasi ini menentukan inteligensi atau kecerdasan seseorang apakah inteligensinya tinggi atau rendah
3. Kemampuan menalar secara deduktif
Yaitu kemampuan menalar atau melogikan sesuatu dari kesimpulan menjadi paparan yang detail
4. Kemampuan menalar secara induktif
Yakni kemampuan penalaran atau melogikakan sesuatu yang berupa paparan atau penjelasan menjadi suatu kesimpulan yang mewakili
5. Kemampuan mengembangkan konsep
Yaitu kemampuan seseorang memahami suatu c ara kerja objek atau fungsinya dan kemampuannya bagaimana menginterpretasikan suatu kejadian
6. Kemampuan memahami
Kemampuan memahami adalah kemampuan seseorang dalam melihat adanya hubungan atau relasi didalam suatu masalah dan kegunaan – kegunaan hubungannya bagi pemecahan masalah tersebut.
Pengertian Intelegensi
I. Pengertian Intelegensi Secara Etimologis
Intelegensi berasal dari bahasa Inggris “Intelligence” yang juga berasal dari bahasa Latin yaitu “Intellectus dan Intelligentia atau Intellegere”. Teori tentang intelegensi pertama kali dikemukakan oleh Spearman dan Wynn Jones Pol pada tahun 1951. Spearman dan Wynn mengemukakan adanya konsep lama mengenai suatu kekuatan (power) yang dapat melengkapi akal pikiran manusia tunggal pengetahuan sejati. Kekuatan tersebut dalam bahasa Yunani disebut dengan “Nous”, sedangkan penggunaan kekuatannya disebut “Noeseis”. Intelegensi berasal dari kata Latin,yang berarti memahami. Jadi intelegensi adalah aktivitas atau perilaku yang merupakan perwujudan dari daya atau potensi untuk memahami sesuatu.


II. Definisi Intelegensi Menurut Para Ahli.
Menurut para ahli : ” kemampuan untuk berpikir secara abstrak (Terman)”, “ Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya (Colvin)”, “intelek plus pengetahuan(Henmon)”, ”tekhnik untuk memproses informasi yang disediakan oleh indra “(Hunt).
• S.C Utami Munandar
Secara umum intelegensi dirumuskan sebagai berikut :
a. Kemampuan untuk berpikir abstrak
b. Kemampuan untuk menangkap hubungan – hubungan dan untuk belajar
c. Kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi – situasi baru
• L.L. Thurstone
7 faktor dasar :
a. Verbal comprehension (v), kecakapan untuk memahami pengertian yang diucapkan dengan kata – kata.
b. Word fluency (w), kecakapan dan kefasihan dalam menggunakan kata – kata.
c. Number (n), kecakapan untuk memecahkan soal matematika.
d. Space (s), kecakapan tilikan ruang, sesuai dengan bentuk hubungan formal
e. Memory (m), kecakapan untuk mengingat
f. Perceptual (p), kecakapan mengamati dan menafsirkan.
g. Reasoning (r), kecakapan menemukan dan menggunakan prinsip – prinsip.
• Edward Thorndike
“intelligence is demonstrable in ability of the individual to make good response from the stand point of truth or fact” (intelegensi adalah kemampuan individu untuk memberikan respon yang tepat (baik)terhadap stimulasi yang diterimanya.)
• George D. Stodard
Intelegensi adalah kecakapan dalam menyatakan tingkah laku, yang memiliki ciri – ciri sebagai berikut :
a. Mempunyai tingkat kesukaran
b. Kompleks
c. Abstrak
d. Ekonomis
e. Memiliki nilai – nilai sosial
f. Memiliki daya adaptasi dan tujuan
g. Menunjukkan kemurnian (original)
• William Stern
Intelegensi merupakan kapasitas atau kecakapan umum pada individu secara sadar untuk menyesuaikan pikirannya pada situasi yang dihadapinya.
• Lewis Medison Terman
Intelegensi terdiri atas dua faktor :
General ability (faktor G), yaitu kecakapan umum dan special ability(faktor S), yaitu kecakapan khusus.
• Carl Witherington
Dalam buku Educational psychlogy, Witherington mendefenisikan intelegensi sebagai berikut :
“…excellence of performance as manifested in efficient activity” (intelegensi adalah kesempurnaan bertindak sebagaimana dimanifestasikan dalam kemampuan-kemampuan / kegiatan-kegiatan)
• Alfred Binet, tokoh perintis pengukuran intelegensi mendefinisikan intelegensi terdiri dari tiga komponen, yaitu:
- Direction , kemampuan untuk memusatkan pada suatu masalah yang harus dipecahkan.
- Adaptation, kemampuan untuk mengadakan adapatasi terhadap masalah yang dihadapinya atau fleksibel dalam menghadapi masalah
- Critism, kemampuan untuk mengadakan kritik, baik terhadap masalah yang dihadapi atau terhadap dirinya sendiri.
• Super dan Cities mendefinisikan kemampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan atau belajar dari pengalaman.
• J. P. Guilford menjelaskan bahwa tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Sedangkan kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. Lebih jauh, Guilford menyatakan bahwa intelegensi merupakan perpaduan dari banyak faktor khusus.
• K. Buhler mengatakan bahwa intelegensi adalah perbuatan yang disertai dengan pemahaman atau pengertian.
• George D. Stoddard (1941) menyebutkan intelegensi sebagai kemampuan untuk memahami masalah-masalah yang bercirikan:
1. Mengandung kesukaran
2. Kompleks
3. Abastrak
4. Diarahkan pada tujuan
5. Ekonomis
6. Bernilai sosial
• Garett (1946) mendefinisikan setidak-tidaknya mencakup kemampuan-kemampuan yang diperlukan untuk memecahkan masalah-masalah yang memerlukan pengertian serta menggunakan simbol-simbol.
• Bischof, psikolog Amerika (1954) mendefinisikan kemampuan untuk memecahkan segala jenis masalah.
• Lewis Hedison Terman memberikan pengertian intelegensi sebagai kemampuan untuk berfikir secara abstrak dengan baik (lih. Hariman, 1958).
• David Wechsler (1958) mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif.
• Freeman (1959) memandang intelegensi sebagai
1. Kemampuan untuk menyatukan pengalaman-pengalaman,
2. Kemampuan untuk belajar dengan lebih baik,
3. Kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang sulit dengan memperhatikan aspek psikologis dan intelektual, dan
4. Kemampuan untuk berpikir abstrak.
• Heidenrich (1970) mendefinisikan kemampuan untuk belajar dan menggunakan apa yang telah dipelajari dalam usaha untuk menyesuaikan terhadap situasi-situasi yang kurang dikenal atau dalam pemecahan masalah.
• Sorenson (1977) intelegensi adalah kemampuan untuk berpikir abstrak, belajar merespon dan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan.
• Suryabrata (1982) intelegensi didefinisikan sebagai kapasitas yang bersifat umum dari individu untuk mengadakan penyesuaian terhadap situasi-situasi baru atau problem yang sedang dihadapi.
• Walters dan Gardnes (1986) mendefinisikan intelegensi sebagai serangkaian kemampuan-kemampuan yang memungkinkan individu memecahkan masalah atau produk sebagai konsekuensi seksistensi suatu budaya tertentu.
Dari berbagai pendapat dapat diatas disimpulkan bahwa inteligensi adalah
1. Kemampuan untuk berfikir secara konvergen (memusat) dan divergen (menyebar)
2. Kemampuan berfikir secara abstrak
3. Kemampuan berfikir dan bertindak secara terarah, bertujuan, dan rasional
4. Kemampuan untuk menyatukan pengalaman-pengalaman
5. Kemampuan untuk menggunakan apa yang telah dipelajari
6. Kemampuan untuk belajar dengan lebih baik,
7. Kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang sulit dengan memperhatikan aspek psikologis dan intelektual
8. Kemampuan untuk menyesuaikan diri dan merespon terhadap situasi-situasi baru
9. Kemampuan untuk memahami masalah dan memecahkannya.
Karena intelegensi merupakan suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi sebenarnya tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
Ciri – ciri intelegensi

Menurut para ahli : ” kemampuan untuk berpikir secara abstrak (Terman)”, “ Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya (Colvin)”, “intelek plus pengetahuan(Henmon)”, ”tekhnik untuk memproses informasi yang disediakan oleh indra “(Hunt).
• S.C Utami Munandar
Secara umum intelegensi dirumuskan sebagai berikut :
a. Kemampuan untuk berpikir abstrak
b. Kemampuan untuk menangkap hubungan – hubungan dan untuk belajar
c. Kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi – situasi baru
• L.L. Thurstone
7 faktor dasar :
a. Verbal comprehension (v), kecakapan untuk memahami pengertian yang diucapkan dengan kata – kata.
b. Word fluency (w), kecakapan dan kefasihan dalam menggunakan kata – kata.
c. Number (n), kecakapan untuk memecahkan soal matematika.
d. Space (s), kecakapan tilikan ruang, sesuai dengan bentuk hubungan formal
e. Memory (m), kecakapan untuk mengingat
f. Perceptual (p), kecakapan mengamati dan menafsirkan.
g. Reasoning (r), kecakapan menemukan dan menggunakan prinsip – prinsip.
• Edward Thorndike
“intelligence is demonstrable in ability of the individual to make good response from the stand point of truth or fact” (intelegensi adalah kemampuan individu untuk memberikan respon yang tepat (baik)terhadap stimulasi yang diterimanya.)
• George D. Stodard
Intelegensi adalah kecakapan dalam menyatakan tingkah laku, yang memiliki ciri – ciri sebagai berikut :
a. Mempunyai tingkat kesukaran
b. Kompleks
c. Abstrak
d. Ekonomis
e. Memiliki nilai – nilai sosial
f. Memiliki daya adaptasi dan tujuan
g. Menunjukkan kemurnian (original)
• William Stern
Intelegensi merupakan kapasitas atau kecakapan umum pada individu secara sadar untuk menyesuaikan pikirannya pada situasi yang dihadapinya.
• Lewis Medison Terman
Intelegensi terdiri atas dua faktor :
General ability (faktor G), yaitu kecakapan umum dan special ability(faktor S), yaitu kecakapan khusus.
• Carl Witherington
Dalam buku Educational psychlogy, Witherington mendefenisikan intelegensi sebagai berikut :
“…excellence of performance as manifested in efficient activity” (intelegensi adalah kesempurnaan bertindak sebagaimana dimanifestasikan dalam kemampuan-kemampuan / kegiatan-kegiatan)
• Alfred Binet, tokoh perintis pengukuran intelegensi mendefinisikan intelegensi terdiri dari tiga komponen, yaitu:
- Direction , kemampuan untuk memusatkan pada suatu masalah yang harus dipecahkan.
- Adaptation, kemampuan untuk mengadakan adapatasi terhadap masalah yang dihadapinya atau fleksibel dalam menghadapi masalah
- Critism, kemampuan untuk mengadakan kritik, baik terhadap masalah yang dihadapi atau terhadap dirinya sendiri.
• Super dan Cities mendefinisikan kemampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan atau belajar dari pengalaman.
• J. P. Guilford menjelaskan bahwa tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Sedangkan kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. Lebih jauh, Guilford menyatakan bahwa intelegensi merupakan perpaduan dari banyak faktor khusus.
• K. Buhler mengatakan bahwa intelegensi adalah perbuatan yang disertai dengan pemahaman atau pengertian.
• George D. Stoddard (1941) menyebutkan intelegensi sebagai kemampuan untuk memahami masalah-masalah yang bercirikan:
1. Mengandung kesukaran
2. Kompleks
3. Abastrak
4. Diarahkan pada tujuan
5. Ekonomis
6. Bernilai sosial
• Garett (1946) mendefinisikan setidak-tidaknya mencakup kemampuan-kemampuan yang diperlukan untuk memecahkan masalah-masalah yang memerlukan pengertian serta menggunakan simbol-simbol.

Selasa, 03 Juni 2014

CARL GUSTAV JUNG

  • Lahir 26 Juli 1875 di Kesswyl ( Switzerland)
  • Lulus Fakultas Kedokteran Universitas Basle tahun 1900
  • Tahun 1913 berhenti menjadi dosen mengkhususkan diri dalam riset
  • Sejak 1906 mulai surat-menyurat dengan Freud di Wina
  • Tahun 1907 bertemu mendirikan perkumpulan Freud
  • ( Freud Gesslchaft ) di zurich
  • Tahun 1908 Jung mengorganisir Kongres Internasional Psikoanalisa pertama di Salzburg
  • Tahun 1911 dengan dukungan freud menjadi Ketua I dari Persatuan Psikoanalisa Internasional
  • Wafat tanggal 6 juni 1961
KEPRIBADIAN
  • Kepribadian : Personality (Latin ; persona yang berarti topeng, wajah yang dipakai untuk menghadapi publik
  • Personality : sikap, tingkah laku, ciri-ciri yang menonjol pada sosok individu yang terbentuk dari gambaran sosial tertentu yang ia terima dari kelompok atau masyarakatnya
Karakter ; Sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain
Latar belakang keluarga, keadaan fisik-psikis, pengalaman hidup, latar budaya akan membentuk seluruh potensi individu bekerja secara organik dan integratif, melainkan sifat dan prilaku yang unik
TEORI PSIKOANALISA JUNG
  • Kepribadian terdiri dari kesadaran, ketidaksadaran dan kesadaran kolektif
  • Kesadaran muncul pada awal kehidupan bagian terpentingnya adalah Ego, yakni menentukan persepsi, fikiran, perasaan dan ingatan
  • Ketidaksadaran merupakan pengalaman yang ditekan, dilupakan, dan yang sadar menimbulkan kesan sadar
  • Kesadaran kolektif merupakan kepribadian yang dipengaruhi peristiwa-peristiwa yang dialami oleh nenek moyangnya
TIPOLOGI JUNG
Usaha untuk menggolong-golongkan orang berdasarkan tipe kepribadiannya
Tipologi Jung terdiri dari sikap hidup (attitude type) dan fungsi psikis (functional type)
Menurut attitude dibagi menjadi tipe introvert (tertutup), tipe ekstrovert (terbuka) dan tipe ambivert (gabungan dari kedua sifat)
  • Menurut functionalnya : rational type dalam berfikir dan irrational type
  • Rational type : thinking type (berdasarkan fikiran) dan feeling type (lebih mengedepankan perasaan atau emosi)
  • Irrational type : sensation trype (menggunakan penginderaan dan intuition type (menggunakan intuisinya)
ENERGI MENURUT JUNG
  • Energi tampak dari kekuatan semangat, kemauan, dan keinginan serta berbagai proses mengamati, berfikir, dan memperhatikan Energi untuk tujuan memelihara kehipduan dan pengembangan aktivitas kultural dan spiritual
  • Tujuan penggunaan energi diraih melalui progresi (progression) dan gerak regresi (regression)
Progresi (gerak maju) : keberhasilan ego sadar menyesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan tak sadar memuaskan, energi akan bergerak maju dimana kekuatan yang saling bertentangan disatukan dalam alur yang harmonis
Regresi (gerak mundur) : energi psikis akibat frustasi sehingga energi tersebut dipakai dalam proses tak sadar
Gerakan energi lain : sublimasi (mengubah tujuan instingftif yang tidak dapat diterima dengan tujuan yang dapat diterima lingkungan. Represi (menekan insting yang tidak mendapat penyaluran rasional di lingkungan, tanpa mengganggu ego.

MASA PERKEMBANGAN MENURUT JUNG
  • Masa anak (anak hidup dalam atmosfer jiwa yang tertutup yang diberikan oleh orang tuanya dan kehidupan psikisnya diatur oleh insting)
  • Masa remaja dan dewasa awal (berjuang untuk mandiri secara fisik dan psikis dari orang tuanya)
  • Usia pertengahan (sudah berhasil menyesuaikan diri dengan lingkungan)
  • Usia tua (mirip dengan usia anak, fungsi jiwa sebagian besar bekerja di tak sadar)
TAHAPAN TERAPI MENURUT JUNG
  • Konfesi (pengakuan)
  • Eludikasi (pencerahan)
  • Edukasi (pendidikan)
  • Transformasi (perubahan).

Sabtu, 19 April 2014

Observasi Sekolah

Kamis, 27 Maret 2014 , 09.54 WIB
Pada hari kamis, kami mempersiapkan almamater dan KTM. Kami berencana untuk mengecek lokasi sekolah dan meminta izin pada sekolah tersebut. Awalnya kami optimis dengan sekolah tersebut karena sekolah ini salah satu sekolah yang sudah mempunyai nama. Kami berencana untuk mengobservasi sekolah tingkat dasar. Sesudah sampainya disana, kami dengan tidak mudah menerima izin dari pihak sekolah tersebut, dan akhirnya kami memilih untuk mencari sekolah lain. Dan setelah 2 sekolah ditolak akhirnya kami diterima untuk observasi di satu sekolah negeri. Gurunya sangat antusias dengan kedatangan kami. Kami pun membuat janji dengan pihak sekolah untuk kembali di esok harinya untuk mengobservasi cara pembelajaran disekolah tersebut. Dan inilah hasil observasi kami  :
Jum’at, 28 Maret . 08.00 WIB
Biodata sekolah
Nama Sekolah                           : SD. No. 060922
Alamat                                      : Jl. Kemuning, Tj. Rejo
Didirikan Tahun                         : 1973
Biaya Pendidikan                       : Gratis
Setting lokasi sekolah
SDN 060922 memiliki 12 ruangan kelas, sekolah ini memiliki toilet dengan keadaan air pet, dan memiliki kantor guru yang bergabung dengan perpustakaan kecil, memilki lapangan upacara.
Setting ruangan kelas observasi
Kami mengobservasi pembelajaran anak kelas 2 SD. Dikelas tersebut ada 21 siswa, yang terdiri dari 9 murid laki-laki, dan 12 murid perempuan. Kondisi perlengkapan di dalam kelas 2 SD yaitu adanya papan tulis (Kapur), Jam, foto Presiden & wakilnya, lemari kayu, peta Indonesia, poster nama-nama (buah,sayuran,alphabet,pancasila,undang-undang,dan hasil gambar siswa), kondisi lantai baik (sudah berkeramik), dan dinding kelas yang kotor karena coret-coretan, terdapat 16 meja dan 33 kursi.
Observasi pengajaran selama kelas berlangsung
Hasil Observasi guru dan siswa   :
Guru hanya fokus pada siswa yang duduk didepan, dan siswa yang didepan sangat aktif, tapi karena gurunya tidak menguasai sekeliling ruangan kelas, siswa yang duduk dibelakang sangat pasif, sehingga siswa tersebut kurang dapat perhatian dari gurunya. Lebih sering memberikan pertanyaan terhadap keseluruhan siswa. Guru  lebih sering menggunakan tipe pembelajaran berbentuk cerita seperti narasi yang berkaitan sehari-hari, sehingga komunikatif dalam membangun hubungan antara guru dan murid. Murid besikap positif terhadap apa yang dijelaskan oleh guru. Misalnya, menjawab setiap pertanyaan dari guru dengan aktif. Murid semangat menjawab pertanyaan saat diberi tahu akan diberikan reward atau hadiah.
Kritik dan saran dalam observasi yang kami amati :
Posisi duduk setiap murid diubah setiap minggu, sehingga murid dapat aktif.Kebersihan kelas dijaga, agar proses belajar-mengajar berjalan dengan nyaman.Selain memberikan tugas, guru seharusnya memberikan pelajaran berbentuk permainan agar siswa tidak jenuh dan pelajaran pun lebih bervariatif.Siswa yang duduk di belakang harus lebih sering dipantau dengan memberikan perhatian yang sama dibanding dengan siswa yang duduk didepan.
Analisis singkat dengan teori belajar
Teori Piaget 
                Proses kognitif : Anak usia 6 tahun sudah mulai mengetahui bahwa 5 mainan kecil, dapat disimpan didalam kotak yang kecil berukuran sama. Berarti ia sudah memanfaatkan skema angka/jumlah. Skema adalah konsep atau kerangka yang eksis didalam pikiran individu yang dipakai untuk mengorganisasikan dan menginterpretasikan informasi. Piaget mengatakan bahwa ada dua proses yang bertanggung jawab atas cara anak menggunakan dan mengadaptasi skema mereka yaitu asimilasi dan akomodasi. Piaget mengatakan bahwa ada dua proses yang bertanggung jawab atas cara anak menggunakan dan mengadaptasi skema mereka. Asmiliasi adalah suatu proses mental yang terjadi ketika seorang anak memasukkan pengetahuan baru kedalam pengetahuan yang sudah ada. Anak mengasimilasikan lingkungan ke dalam skema. Akomodasi adalah suatu proses mental yang terjadi ketika anak menyesuaikan diri dengan informasi baru. Anak menyesuaikan skema mereka dengan lingkungannya. Contohnya, Adi yang berumur 7 tahun yang diberikan sebuah krayon dan sebuah buku gambar untuk mewarnai gambar apel. Adi belum pernah menggunakan krayon untuk mewarnai, tetapi dengan mengamati cara gurunya menggunakan krayon tersebut, maka Adi dapat mengerti bahwa krayon gunanya untuk memberi warna pada gambar apel tersebut, dan cara penggunaannya dengan mencoret gambar apel tersebut. Setelah mengetahui hal ini Adi akan memasukkan pengetahuan ini ke dalam skema yang sudah dimilikinya (asimilasi). Tetapi Adi menggunakan krayon dan mewarnai gambar tersebut sangatlah tidak rapi, coretannya membuat gambar apel tidak seperti gambar apel, maka dari itu Adi harus sangat hati-hati dengan menggunakan krayon dalam mewarnai apel tersebut. Penyesuaian ini mencerminkan kemapuannya untuk mengubah sedikit pemahamannya tentang dunia (akomodasi).
Menerapkan Teori Piaget untuk Pendidikan Anak
Gunakan pendekatan konstruktivis. Piaget menekankan bahwa anak-anak akan belajar dengan lebih baik jika mereka aktif dan mencari solusi sendiri. Piaget menentang metode yang memperlakukan anak sebagai penerima pasif. Implikasi pendidikan dari pandangan Piaget adalah bahwa untuk semua mata pelajaran, murid lebih baik diajari untuk membuat penemuan, dan memikirkannya, bukan diajari menyalin apa-apa saja yang dikatakan oleh guru.
Fasilitasi mereka untuk belajar. Guru yang efektif harus merancang situasi yang membuat murid belajar dengan bertindak. Situasi seperti ini akan meningkatkan pemikiran dan penemuan murid. Jadikan ruang kelas menjadi ruang eksplorasi dan penemuan.
Perkembangan Kognitif
Pendekatan Piaget : Anak Operasional Konkret
Operasional konkret adalah tahapan ketiga dari perkembangan kognitif Piaget (rata-rata dari usia 7 hingga 12 tahun), dimana anak-anak berkembang dalam hal logika, tapi bukan tentang pemikiran yang abstrak. Menurut Piaget, pada sekitar usia 7 tahun, anak-anak memasuki tahap operasional konkret, dimana mereka bisa menggunakan berbagai operasional mental, seperti penalaran, memecahkan masalah-masalah konkret (nyata), seperti dimana harus mencari pensil yang hilang. Anak-anak pada usia ini sudah dapat berpikir dengan logis karena mereka tidak terlalu egosentris dari sebelumnya dan dapat mempertimbangkan banyak aspek dari situasi. Namun, pemikiran mereka masih terbatas pada situasi-situasi nyata saat ini dan sekarang.
Hasil dari observasi anak-anak usia 7-8 tahun, mereka sudah pandai dalam mengelompokan hal-hal yang nyata, contohnya anak kelas 2 SD sudah dapat memilah objek menjadi kelompok-kelompok, seperti bentuk, warna, atau keduanya. Mereka mengetahui bahwa mangga memiliki anggota yang lebih sedikit dibandingkan kelas dimana ia menjadi bagiannya seperti buah.
Adanya seriasi,penyimpulan transitif dan inklusi. Seriasi adalah kemampuan mengurutkan item sepanjang dimensi-dimensi. Penyimpulan transitif adalah pemahaman hubungan antara dua objek dengan mengetahui hubungan keduanya dengan objek ketiga. Inklusi kelas adalah pemahaman keseluruhan dan bagian-bagiannya.
Inilah hasil observasi kami dalam jenjang pendidikan sekolah dasar.










Pendekatan Biologis-Genetis Kepribadian

A.    DEFENISI KEPRIBADIAN
Aspek-aspek perilaku yang menjadi ciri khas individu yang dipengaruhi oleh struktur-sturuktur jasmani manusia dan tidak mudah berubah oleh pengaruh dari lingkungan sosial. Tingkah laku manusia pada dasarnya dikendalikan oleh sistem otak dan sistem saraf.Pendekatan ini mencoba menghubungkan dan menjelaskan perilaku yang terlihat dan yang dapat diamati di dalam tubuh serta menentukan proses biologis yang mendasari perilaku dan proses mental. Misalnya, rasa takut dan marah, pada manusia dan hewan dapat dirangsang dengan aliran listrik lemah di daerah tertentu. Pendekatan ini juga memandang kepribadian manusia dapat diturunkan ditentukan dari faktor-faktor keturunan. B.     STATIC PERSONALITY
Sesuai dengan Sheldon (1942), Static Psychology merupakan sifat keseimbangan antara komponen dari bentuk manusia dan strukturnya atau yang disebut juga morfologi.  Mendasari dari struktur yang bisa diamati atau fisik dari manusia, sheldon membuat suatu hipotesis mengenai struktur biologis yang disebut juga dengan morphogenotype. Genotype merupakan konstitusi genetik dari seseorang, yang dibedakan dari Phenotype yang merupakan sifat yang terlihat dari suatu organisme yang dihasilkan karena adanya interaksi antara genotype dan lingkungan, jadi morphogenotype berbeda dengan struktur tubuh yang terlihat. Secara singkat, phenotype merupakan sesuatu yang bisa kita lihat, sedangkan morphogenotype bukan hanya menentukan perkembangan fisik tetapi juga pembentukan perilaku.
Bagaimana cara kita menguji morphogenotype? Kita tidak bisa mengujinya secara langsung seperti kita menguji phenotype yang bisa disentuh, dilihat dan diukur. Oleh karena itu Sheldon mengajukan Somatotype atau Body Type. Somatotype cenderung bergantung pada pengukuran tubuh yang sebenarnya atau phenotype tapi hal tersebut diupayakan untuk mendapatkan pola kausal dari morphogenotype  dengan mencoba untuk menyimpulkan dominasi diantara semua karakteristik fisik manusia. Somatotype (Somatotype Performance Test)merupakan usaha untuk mengukur morphogenotypemelalui pengukuran phenotipe. Pengukuran struktur tubuh tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan biological identification tag, bahwa faktor genetis dan biologis berperan dalam perkembangan individu dan faktor-faktor itu dapat dikenali melalui sejumlah pengukuran struktur tubuh. Pengukuran itu mengenai: kepala, leher, dada, lengan, panggul, perut, kaki. Jadi somatotipe itu merupakan kompromis antara morphogenotipe dan phenotipe.   
Dari hasil pengukuran tersebut ada 3 komponen atau dimensi utama  jasmani :1).    Endomorphy
Ciri-cirinya :    
Alat-alat atau organ-oragn internal dan seluruh sistem digestif yang berasal dari endoderm sangat berperan. Kadar lemak yang tinggi, pinggang lebar, struktur tulang besar.
Secara fisik tampak lembut dan gemuk.
                             
2).  Mesomorphy
Ciri-cirinya :                                 
Bagian tubuh yang berasal dari mesoderm lebih berkembang ( otot, pembuluh darah, jantung). Kadar lemak sedang, badan padat dan tulang sedang.
Secara fisik tampak kokoh, keras, otot menonjol, tahan sakit, banyak ditemukan olahragawan, tentara atau penjelajah.
 3).  Ectomorph
Ciri-cirinya :Organ-organ ectoderm lebihberkembangsepertikulitdansistemsyaraf. Kurus, kadar lemak rendah, badan kecil, dan tungkai panjang dan tipis.
Secarafisikterlihat :jangkung, dadakecildanpipih, lemah, otottidakterlihat. Istilahdiatasdihubungkandengan 3 lapisanpadapembentukan fetus manusiayaitu endoderm, mesoderm, ectoderm.Dominasidarialat-alat yang berasaldarilapisantertentuakanmenentukandominasidarikomponentertentu.Somatotipe individu itu menggambarkan keadaan tubuhnya dengan angka tiga deret..Sheldon mengatakan bahwa apabila orang mau benar-benar memperoleh perkiraan yang sebaik-baiknya tentang morphogenotipe secara ideal, dia tidak cukup hanya menyelidiki individu itu sepanjang sejarah hidupnya, melainkan juga nenek moyang dan keturunannya   Sheldon juga mengemukakan bahwa terdapat 3 komponen atau dimensi kedua jasmani yaitu :a.       Displasia
Istilah itu dipakai oleh Sheldon untuk menunjukkan setiap ketidaklengkapan campuran ketiga komponen primer itu pada berbagai daerah daripada tubuh. Banyak displasia berhubungan dengan ectomorphy, dan lebih banyak pada wanita daripada pada laki-laki.b.      Gynandromorphy
Komponen ini menunjukkan sejauh manakah jasmani memiliki sifat-sifat yang biasanya terdapat pada jenis kelamin lawannya. Jadi individu laki-laki yag mempunyai komponen ”g” tinggi akan memiliki tubuh yang lembut, panggul besar, dan sifat-sifat wanita yang lain.c.       Texture (tampang)
Adapun yang dimaksud dengan tampang (texture) oleh Sheldon ialah bagaimana individu itu nampaknya keluar
 C.    PERSONALITY DYNAMIC
Ketika struktur, aspek statis dari kepribadian, telah berfungsi diman seseorang “bangkit dan berpindah-pindah”  keinginan untuk mengekspresikan dan motivasi dan berinteraksi dengan orang lain menjadi sebuah dinamika buat organisme. Perilaku yang organisme tampilkan tersbut merefleksikan apa yang dijelaskan oleh Sheldon mengenai Temperament  atau level kepribadian yang berada diatas psychological function dan dibawah sikap dan keyakinan. Sheldon merasa bahwa dua aspek tersebut baik fisik maupun temperamen berhubungan satu sama lain dengan cara yang sangat penting.
 Dimensi Temperamen :-          Viscerotonia
Berhubungan dengan fungsi anatomi alat-alat visceral/digestif. Alat pencernaan tipe ini realtif besar dan panjang.
Sifat temperament :Santai, suka hiburan, gemar makan, butuh afeksi, tidur nyenyak, bila menghadapi kesulitan membutuhkan orang lain. Mereka relax dengan masalah postur tubuh, bereaksi lambat, mereka cenderung tenang dalam keadaan marah, mereka sangat supel, dan toleransi terhadap orang lain dan pada umumnya gampang berinteraksi dengan orang lain.        
 -          Somatotonia
Sifatnya berhubungan dengan dominasi dari anatomi struktur somatis. Tipe ini suka akan ekspresi muskukar.
Sikapnya gagah, energetik, kebutuhan bergerak besar, suka berterus terang, suara lantang, bila menghadapai kesulitan butuh melakukan gerakan-gerakan. Suka dengan petualangan fisik dan mengambil resiko dan memiliki kebutuhan yang kuat akan vigorous. Cenderung agresif, kurang sensitif terhadap orang lain, dan berisik.
-          Cerebrotonia
Ciri-cirinya :Ragu, kurang berani bergaul dengan banyak orang, terhambat dalam berbicara didepan orang banyak, tanggap, hidup teratur sukar tidur, bila menghadapi kesulitan butuh mengasingkan diri.
 D.    Hubungan Antara Fisik Dengan Temperament
Fisik dan temperamen berhubungan karen seseorang dengan bentuk tertentu cenderung untuk diterima dengan perilaku tertentu dan tidak diterima (punished) oleh orang lain karena steorotipe budaya mengharapkan seseorang dengan bentuk tertentu  untuk berprilaku dengan cara tertentu.
 -          Endomorphy   = Viscerotonia-          Mesomorphy   = Somatotonia-          Ectomorphy    = Cerebrotonia  E.     Behavioral Genetics
Behavioral genetics adalah studi tentang kontribusi genetika terhadap perilaku. Para ahli genetika behavioral menggunakan beragam teknik untuk memperkirakan seberapa jauh pengaruh faktor genetik terhadap variasi dalam karateristik psikologi. Sebagaimana yang akan kita saksikan, metode behavioral genetic juga dapat, dan telah, memberikan bukti efek lingkungan terhadap kepribadian. Ada tiga metode riset utama Behavioral genetic yaitu studi selective breeding, studi anak kembar, dan studi adopsi.A.     Selective Breeding Studies
Dalam studi selective breeding, binatang dengan sifat yang ingin diuji dipilih dan dikawinkan. Selective breeding bukan hanya teknik riset, teknik ini digunakan seperti dalam membiakan kuda balap atau membiakkan anjing dengan karateristik yang diinginkan.Setelah menciptakan keturunan binatang yang berbeda melalui selective breeding, seseorang tidak hanya dapat mempelajari kecenderungan perilaku yang umum. Dimungkinkan untuk menjadikan keturunan yang berbeda sebagai subjek pengalaman perkembangan terkontrol secara eksperimen. Dengan demikian, para peneliti dapat mengurutkan efek perbedaan genetik dan perbedaan lingkungan pada perilaku menyalak atau ketakutan dapat dipelajari dengan menempatkan keturunan anjing yang berbeda secara genetik ke kondisi lingkungan tempat dibesarkan yang berbeda (scott & Fuller, 1965).Riset selective breeding telah meningkatkan pengetahuan kita tentang bagaimana gen memberikan kontribusi kepada masalah yang sering kali kita salahkan kepada individu saja. Perhatikan penelitian tentang alkhoholisme (Ponomarev & Crabbe, 1999). Penelitian mengilustrasikan bahwa gen memainkan peran dalam responsivitas terhadap alcohol, kecanduan, dan pertobatan. Gen juga memberikan konstribusi kepada pemahaman fakta bahwa faktor genetik menyebabkan beberapa individu sangat rentan terkena persoalan yang berkaitan dengan alcohol ( Hamer & Copeland,, 1998 ).